Aku Telah Lama Mati

Tag

, , , ,

Apa yang kamu lakukan saat merindukanku?

Aku membuka setiap album kenangan saat bersamamu

Apa yang kamu lakukan saat merindukanku?

Aku mendengarkan lagu-lagu yang membuat ingataku menuju padamu

Apa yang kamu lakukan saat merindukanku?

Aku cium dengan sungguh pakaian yang kamu tinggalkan untukku

Apa yang kamu lakukan saat merindukanku?

Aku dengan sekuat tenagaku melupakanmu

Kenapa begitu?

Aku sudah lama tersiksa karena merindukanmu

Sedang dirimu memeluk erat seseorang yang tentu bukan aku

Aku telah lama mati, dengan membawa cinta yang tak pernah mati, Aku mencintaimu.

 

Bandung, 2017

Iklan

Memberi Reda Pada Cemburu

Tag

, ,

Puan yang duduk di sudut bangku halte

Aku terpaku melihatmu menyeka rintik air mata

Sedang hujan sahdu dalam derasnya

Aku tak tahu alasanmu

Mengapa memberi basah pada pipimu

Dan kau salah jika ingin menyembunyikan tangismu

Rambutmu masih terjaga kering dan rapih

 

Aku di sudut lainnya mengamatimu

Berdoa agar hujan segera menyembuhkanmu

Memberi reda pada cemburu

Membasuh luka dan lekas berlalu

Belum sempat kuberikan sapu tanganku

Bus kota sudah menjemputku

Dan kita bertemu di lain waktu

 

 

Bandung, 2017

 

 

Ekspektasi Jodohku

Tag

, ,

Ekspektasi tentang jodohku yang mungkin harus dirubah

Berharap mendapatkan orang yang baik

Orang yang mapan

Seseorangyang saleh dalam agamanya

Seseorangyang cantik menawan

Dan Seseorangdari keturunan yang bagus

 

Akan tetapi

Mungkin saja aku digariskan Tuhan untuk menjadi jalan bagi orang lain

Mungkin aku mendapatkan seseorang yang masih belum baik

Seseorang masih belum mapan

Seseorang yang masih belum terlihat saleh dalam agamanya

Seseorang yang masih belum terlihat menawan

Dan Seseorang dari keturunan yang biasa-biasa saja

 

Dia yang dipertemukan denganku mungkin akan mrasa sangat beruntung

Karena aku, Dia berubah menjadi lebih baik

Karena aku, Dia akan lebih giat untuk menjadi sejahtera

Karena aku, Dia menjadi lebih dekat dengan Tuhannya

Karena aku, Dia akan merasakan betapa sempurnya ia, karena dicintai olehku.

Karena aku, Dia akan menjadi orang tua yang mempunyai garis keturunan baik.

Karena aku, Dia akan sangat bahagia

Karena aku, Dia akan menemukan surganya.

Dan ini untuk aku yang merasa lebih baik dari jodohku

Juga untuk aku yang merasa belum baik untuk jodohku

 

Untuk jodohku, aku siap dengan dirimu

Untuk jodohku, bersiaplah untuk menerimaku

Untuk kita, menemukan surga kita.

 

Bandung, 2017

Film Jones (Jomblo Full of Happiness)

Tag

, , , , ,

Bermula dari pagi yang sayup-sayup sunyi, setelah semalaman suntuk mata tak bisa dipaksanya terpejam. Kini Bejo harus menerima jika dia bangun pagi pukul lima. Tak jauh berbeda dari suara kokok ayam yang saling bersahutan, setelah sembahyang. Dengan niat yang sungguh untuk melanjutkan tidurnya yang tak senyenyak biasanya. Bejo pun ndusel-ndusel di atas kasur tipisnya yang bisa diinterpretasikan begitu lama Bejo biasa bersemdi diatasnya. Berharap kembali bisa melanjutkan mimpi-mimpinya. Bukan main. Sudah banyak pengalaman dan perjalanan indah yang Bejo lalui dalam mimpi-mimpinya, dari mimpi berkencan dengan artis kenamaan sampai yang antah berantah tak ingin Bejo ceritakan. Akan tetapi seindah apapun, apalah artinya jika mimpi.

Golar-goler dan terus mencoba banyak gaya, masih juga Bejo tak lantas lekas tidur. Ia ambil handphone-nya dan menyalakan aplikasi pemutar musik dan memutar lagu-lagu dangdut andalannya, suara mba Via Vallen, Nella Kharisma, dan penyanyi dangdut lainnya menghantarkan Bejo sampai ke gerbang mimpi. Sayangnya, belum sampai terlihat gerbang, sudah kembali membuka mata. Entah ada apa. Toh masalah juga Cuma itu-itu saja, kok bisa-bisanya buat Bejo tak bisa menaklukan dirinya sendiri. Apalagi Cuma tidur, yang bisa dibilang Bejo lah orangnya.

Perlahan sinar matahari lancang masuk tanpa permisi kepada penghuni, melalui celah pada jendela kamar, Bejo masih menikmati music sambil mengangguk-anggukkan kepala dan mata terpejam agak memaksa. Tiba-tiba saja Bejo membuka mata dan melihat pemandangan yang bisa dibilang langka baginya, bangun di pagi hari, dan menikmati secercah sinar matahari, semakin menambah kekhususkan Bejo dalam mendengarkan lagu, namun kali ini matanya jelas terbuka. Tak mau terburu-buru berangjak dari tempat tidurnya, apalagi kepikiran sarapan. Masih ia peluk erat bantal guling kesayangan yang entah aroma apa yang melekat abadi pada pori-pori bantalnya.

Bermacam umpatan Bejo lantunkan dengan nada yang agak tinggi, tentunya tepat setelah lantunan istighfar Bejo lantunkan. Agar seimbang pikirnya. Toh hidup harus berimbang bukan?. Sampai pada titik dimana Bejo menyerah pada usaha tidurnya, dan kemudian bangkit dari kasurnya dan melakukan gerakan-gerakan yang mirip dengan senam namun tak beraturan. Dibukanya jendela lebar-lebar agar aura negative kamarnya berganti dengan aura kasih. Aura positive maksudnya. Tepat di hadapannya laptop dan duduk manislah Bejo di hadapannya, menonton film agar waktu tak terasa berlalu.

 

 

*kurang lebih 2 jam berlalu

Satu film Bejo selesaikan dengan menghela nafas kemudian. Melihat jam yang masih menujukkan pukul 9.36, tatapannya kosong dan berpikir apa yang akan hendak lakukan di hari libur ini. Sadar tumpukan bajunya menggunung tak lantas membuat Bejo berpikiran untuk kerja bakti mencucinya, masalah cucian masih bisa ia abaikan. Menjemur kasur dan bantal guling kesayangannya pun sama sekali tak terbesit dalam benaknya.

“Saksikan Film Jones (Jomblo full of Happiness) di bioskop kesayangan anda” membaca poster iklan di sebuah media sosial, Bejo jadi berpikiran untuk menonton film di bioskop. “Sudah lama juga aku tidak hedon dan memanjakan diri, mumpung masih awal bulan hehe” gumam Bejo sambil tersenyum melihat handphone. Ia pun memutuskan untuk mandi dan semangat untuk berangkat ke bioskop. Sendirian.

Mandi, beres. Pake baju dan celana, beres. Dengan menatap cermin dan menyemprotkan minyak wangi yang sebenarnya botolnya sudah kosong, tetap saja buat Bejo gak afdhol kalau pergi ga pake minyak wangi. Anggap saja ada. Sambil mengecek apa saja yang akan ia bawa, ia masukkan dompet yang masih terlihat tebal ke kantong belakang kanannya. Dan berangkat Bejo menuju bioskop kesayangannya, lagian mau sayang siapa lagi. Mending menyayangi bioskop, karena bioskop gak akan menyakiti. He he he

“Bajilak!!”

“kenapa kang?” tanya mba-mba yang ada di depan Bejo

“eh engga mba hehe. Bioskopnya belum buka ya mba?” tanya Bejo

“gimana sih kang, kan bioskop bukanya jam 1 siang mas.” Dengan tatapan tajam dan jijik mbanya pun menjawab pertanyaan Bejo, kelihatan sekali Bejo jarang sekali ke bioskop, sampai lupa jadwal buka bioskop kesayangannya. Bejo pun berjalan kaki entah apa yang ia cari, melewati banyak tukang jajanan, warung pinggir jalan, dan pemandagan padatnya jalanan.

“hemmm gimana kalau ke kafe dulu ya, sekali-kali makan enak ah” gumam Bejo sambil senyum-senyum sendiri. Ia pun mencari kafe yang sudah buka dan tidak terlihat mahal, karena semewah-mewahnya Bejo tetap ada batasnya. Mengingat masih terlalu muda tanggalan bulan ini, jalan masih panjang. Sebagai konsumen tetap obat maag tentunya Bejo harus lebih menghemat dan berhati-hati meski awal bulan, karena bagaimana pun obat maag tetap harus ia beli pake uang nantinya. melihat di seberang jalan ada Chikko Café & Coffee, Bejo pun meyakinkan diri jika ia pantas masuk ke dalam kafe tersebut. Kemudian ia menyebarang dan masuk ke dalam dengan disambut sapaan selamat pagi, yang padahal sudah menginjak siang.

Setelah memesan kopi dan nasi goreng kambing, Bejo duduk dan menikmati dari balik jendela besar ramainya jalanan. Benar saja orang-orang melihat orang lain seperti dalam aquarium, ingin terlibat langsung namun terhalang pagar kaca yang besar, sampai pada akhirnya hanya mengabadikan dalam foto dan menjadikannya sebuah kisah klasik yang tak tergapai. Sedang asik menerawang dalam-dalam, tiba-tiba saja ada perempuan berjalan sendirian dan masuk ke kafe dan mengganggu lamunan Bejo. Memasang wajah yang sok cool dan mencoba memeberinya senyum semoga tidak dianggapnya genit, harap Bejo.

Benar saja si perempuan ini duduk tepat di belakang kursi Bejo, hanya saja saling tak berhadapan. Mungkin memang itu pilihan yang paling tepat bagi perempuan tersebut, tak ingin harinya rusak karena melihat langsung tampang Bejo. Jam 1 siang masih lama sampainya, Bejo pun mulai berpikiran; bagaimana jika mengawali pembicaraan kepada perempuan di belakangnya. Hanya saja perlu nyali yang kuat dan butuh keyakinan jika perempuan tersebut tidak tergganggu jika Bejo mengajaknya berbincang.

Puluhan menit berlalu masih saja dengan posisi duduk yang sama, tak ada pergerakan dari keduanya. Kemudian komat-kamitlah mulut Bejo, entah membaca mantra apa, yang disusul dengan menghela nafas yang panjang. “bismillah!!” Bejo pun bangkit dari kursinya dan menghadap kearah perempuan di belakangnya.

“kreeeeek” suara pintu disertai datangnya seorang lelaki yang juga menuju kearah perempuan tersebut.

“kemana aja sih kamu? Lama banget. Aku nungguin di sini dari tadi” kata perempuan dengan wajah kesal. Bejo pun bingung dia yg juga ada di hadapannya terpaku, kok tiba-tiba berkata demikian?

“maaf sayang, aku tadi gak sengaja ketemu temen lama aku di jalan” tepat sekali suara itu ada di belakang telinga Bejo. Kemudian lelaki itu pun duduk di kursi depan si perempuan. Bejo yang mendadak beku dan terpaku melihat lelaki yang tiba-tiba datang dan menyerobot kursi yang hendak ia tuju, juga kalimat sayang yang diucapkan si lelaki kepada si perempuan. Mati kutu. Malu.

Masih dalam keadaan berdiri menghadap mereka, tiba-tiba lelaki itu bertanya kepada perempuannya. “sayang mas-mas ini siapa ya?”. “gak tau” jawab judes perempuan yang terlihat masih menyiman kesal karena lelakinya lama sekali datangnya. “oh bukan-bukan mas, maaf saya kebetulan mau ke kamar mandi eh mas datang hehehe” dengan wajah kaku pun langsung melesat ke arah kamar mandi.

“bah!! Apes sekali aku ini, pantas firasatku tidak baik” ujar Bejo di depan cermin dan melihat langsung betapa pias wajahnya sendiri. Ingin rasanya Bejo langsung kabur dan keluar dari kafe namun, makanan dan kopinya masi terlihat penuh, sayang sayang sekali jika ditinggalkan begitu saja. Setelah beberapa kali meyakinkan dirinya jika tidak akan terjadi apa-apa. Maka ia pun kembali ke tempat duduknya. Kali ini dia merasa beruntung karena membelakangi mereka, tidak tidak terlihat begitu kagetnya wajah Bejo, begitu pun Bejo tak melihat orang pacaran di hadapannya.

“sayang, maaf ya beneran deh tadi gak sengaja ketemu temen lama waktu aku balikin buku ke perpustakaan. Ngakunya sih adik kelas aku waktu SMP, tapi aku lupa. Eh dianya kenal aku jadi aku duduk sebentar ngobrol sama dia, kebetulan dia tanya-tanya tentang lomba essai yang mau dia ikutin. Gitu sayang” si lelaki yang sedang mengklarifikasi keterlambatannya. Bejo yang masih diam menatap kaca jendela kafe hanya mendengarkan saja dan sesekali menyeruput kopinya.

“jadi sebelum ngedate sama aku, kamu udah ngedate duluan yah” jawab si perempuan

“kok ngedate sih yang? Ya engga dong. Kan gak sengaja ketemu di perpus, terus ngajak ngobrol gitu.”

“iya kan namanya ngedate” jawab judes perempuan

“kok ngedate sih yang? Emang definisi ngedate begitu ya? Aku kira ngedate tuh. Cuma berlaku buat pasangan aja.” Si lelaki yang sudah mulai agak kesal karena perempuannya masih belum bisa mengerti

“sayaang, maafin dong. Iya aku tahu aku salah, aku telat banget. Dan beneran deh aku emang gak ada janji sebelumnya sama siapa pun kecuali kamu. Dan aku ke perpus mau balikin buku, tiba-tiba aja ada yang nyapa dan katanya junior aku waktu SMP. Udah gitu aja. Dan inget sayang, aku setia sama kamu. Aku gak mungkin menyia-nyiakan kepercayaan yang sudah kamu berikan ke aku yang” kembali si lelaki merayu dan terus berusaha meyakinkan perempuannya.

Mendengar percakapan di belakangnya, Bejo hanya senyum-senyum menikmati pertikaian ringan yang belum pernah ia alami. Sangat lucu. “hihihi kok susah banget ya, orang ketemuan gak sengaja dan ngobrol dibilang ngedate.” Bejo dalam batinnya bergumam.

“makanya kalau aku kasih kepercayaan, kamu jangan sembarangan dipakainya dong. Kamu boleh kok main sama siapa aja, tapi jaga apa yang perlu kamu jaga.” Jawab perempuan yang masih terdengar judes.

“iya sayang, aku selalu jaga kepercayaan kamu kok. Lagian aku gak pernah jalan bareng sama siapapun kecuali kamu kok. Ngedate juga sama kamu doang. Beneran yang tadi mah gak sengaja ketemu dan gak jalan bareng, Cuma duduk di bangku perpus.” Kembali jawab si lelaki

“berarti selama ini aku suka jalan sama temen-temen aku namanya ngedate dong yah? Ya engga lah kalau sama temen mah.” Jawab perempuan.

“nah itu sayang, makanya tadi aku tanya, emang yang begitu dikatakan ngedate ya? Setahu aku ngedate tuh dengan pasangan. Kalau sama temen ya hangout aja biasa. Apalagi ketemunya ga sengaja dan Cuma nimbung ngobrol doang. Masa dibilang ngedate sih. Maafin ya sayang” jawab si lelaki yang terdengar sudah agak lega dari sebelumnya.

Bejo pun kembali mbatin “kok susah banget ya, untuk keluar main saja punya banyak definisi masing-masing, tergantung dengan siapa keluarnya. Aneh juga kalau aku keluar main futsal sama anak-anak dibilang ngedate, buset ngedate sama cowok-cowok begitu. Dan kalau yang keluar main kemana-mana sendirian namanya apa ya? Hahaha lucu sekali dunia percintaan ini” dirasa sudah cukup terhibur dengan perbincangan pasangan yang ada di belakang Bejo, ia pun kemudian memutuskan untuk kembali menuju bioskop. Karena jelas saja jika masih duduk di kafe, akan banyak mendengar rayuan-rayuan sampah antar kekasih. Bejo pun keluar dari kafe dan menuju bioskop kesayangannya untuk menonton film Jones (Jomblo Full of Happiness).

 

Jatinangor, 2017

 

 Berguru Pada Waktu

Tag

, , , , ,

Pada saatnya kita hanya perlu berjalan

Dan tetap menatap ke depan

Tidak penting lagi sebuah jawaban

 

Membuang catatan penuh rencana

Yang telah menjadi bencana

Pada palung hati terdalam masih terbesit percaya

 

Kita yang berguru pada waktu

Semua yang berlalu

Dan semua yang akan berlalu

Kita yang tidak tahu

Sedang Tuhan akan segera memberi tahu

Mungkin setelah beberapa langkah berlalu

 

Bandung, 2017

 

Gang Senggol Geal-Geol

Jalan gang yang sempit Bejo susuri dengan mata yang masih merem-melek, terkadang merem kalau jalanan sepi dan tanpa halangan, kadangkala mendadak terbelalak melek karena kaget tercium parfum wanita yang melintas begitu saja, sontak saja Bejo tak ingin terlihat jelek apalagi dengan mata merem. Tak ingin melewatkan rejeki, Bejo melek dan menikmatinya sejenak, setidaknya sampai cewek tersebut tak lagi kasat mata dan harumnya sudah tak terendus lagi olehnya.

Jalanan yang becek Bejo lompati setiap ada kubangan-kubangan, hitung-hitung olahraga ringan pikirnya. Kali ini langkahnya diperlambat, bukan tanpa alasan Bejo memperlambat langkahnya, tentu saja karena ada sesuatu yang berarti dan perlu diamati olehnya. Berjajar rapih di hadapannya segerombolan mahasiswi yang hendak menuju kampus. Pura-pura cueklah Bejo, sesekali pandangannya fokus dan tak bergerak, karena sedang menikmati yang bergerak di hadapanya juga gratis. Sarapan pagi ujarnya dalam hati.

Bagi cewek, di mana pun adalah tempat yang asik untuk berbagi cerita, gossip khususnya. Selama ada bahan untuk bisa dibahas juga mereka yang lihat saat itu bisa saja menjadi bahan diskusi yang panjang, tiga sks mungkin. Dari hari sepele seperti Ibu kost yang mandi di tengah malam sampai cerita percintaan mereka yang njelimet dan asik.

Kali ini bukan hanya mata Bejo yang fokus pada mahasiswi-mahasiswi, ia juga memasang tajam telinganya untuk mendengarkan cerita-cerita mereka. Kurang lebih begini ceritanya;

“Gak tau semalem aku kesel anget sama cowok aku” kata cewek berbaju merah maroon

“Emang kenapa gitu?” sahut cewek sebelahnya yang berbaju soft pink

“Jadi semalem aku nge-BM cowok aku, aku bilang kan kalo aku laper, terus cowokku bales, hayu atuh makan, mau makan apa emang?, aku jawab aja gak tau”.

“Hahahaha terus gimana tuh?” celetuk cewek berkerudung cream, bersepatu boots warna putih.

“Terus kata cowok aku, mau aku bawain martabak gak? Aku jawab aja gak mau, orang aku laper tapi gak tau gak pengan makan apa-apa kok malah nawarin martabak, kan malah eneug nantinya”

“Gak lama kemudian, cowok aku dating tuh ke kosan bawain aku martabak telor, kan kesel ya orang aku cuma cerita doang, gak mau makan apa-apa malah dia dateng bawa martabak, kan malah jadi pengen makan tuh orang. Terus aku ambil martabaknya langsung aku suruh pulang aja tuh dia”

“Ah kocak kamu mah, katanya gak mau makan, tapi diambil juga kan martabaknya hahaha” kata cewek yang  menggunakan tas rajut warn-warni.

“Ya gimana lagi kasian juga kan dia udah bawain martabak, toh ternyata habis juga martabakanya, kegoda sama baunya sih hahaha” mereka pun tertawa puas mendengar ceritanya.

Bejo yang sedang mendengarkan ceritanya pun sama sekali tidak tertawa justru gondok dalam hatinya, mendadak ia tak mempedulikan pemandangan indah di depannya, pikirannya tajam dan tak sepakat dengan si cewek itu. Bejo sebagai cowok pun merasa dipermainkan oleh cewek, meskipun Bejo sama sekali belum merasakan seperti itu, toh punya pacar saja tidak, belum sempat jadi pacar sudah diputusin duluan oleh calon pacarnya. Sungguh.

Menggerutu lah Bejo dalam hatinya, semudah itu kah cewek mempermainkan para cowoknya, sebagai pacar yang baik tentu saja saat ceweknya bilang “lapar” pasti ia akan menawarinya makan atau lebih bagus lagi langsung datang dan membawakan makanan kesukaannya. Para cewek tidak tahu bagaimana perjuangan cowok untuk membawakan makanan untuk ceweknya, malam-malam ia harus gedor-gedor pintu tetangga kostan dan memberanikan diri meminjam uang untuk ia belikan makanan kesukaan ceweknya, mending jika kesukaan ceweknya itu masakan warteg yang cukup dengan uang ceban, repot juga kalau makanan kesukaanya itu nasi padang dengan telor dadar besar, beserta ayam bakar dan tak ketinggalan daging rendang nyempil di antara sambal dan nasinya. Semua itu demi si Kasih.

Sedangkan kali ini Bejo mendengarkan langsung para mahasiswi yang entah mengapa dengan mudahnya mempermainkan pacarnya di malam hari, bilang lapar dan membuat bingung pacarnya. Untung saja cowok itu bukan aku, coba kalau itu aku, sudah aku pisuhi tepat di depan matanya kemudian kucium keningnya, toh aku cinta. Begitu pikir Bejo.

Sampai Bejo teringat quote yang entah siapa penciptanya namun pada saat itu Bejo tak begitu peduli dengan quote-quote seperti itu, sudah tahu kan kenapa? Iya karena Bejo jomblo. Cewek itu terkadang hanya butuh didengarkan dan tidak butuh saran.” Begitulah kata quote yang Bejo ingat, jadi Bejo menyimpulkan jika cewek yang di depannya itu bercerita kepada cowoknya kalau dia lapar, itu bukan berarti si cowok harus mengingatkan untuk makan apalagi sampai membawakan makanan, cukup dengarkan dan iya kan saja. Begitu apa yah? Tanya Bejo dalam hati. Toh mau bagaimana pun juga wanita itu mahluk yang selalu benar dan susah membuatnya merasa bersalah. Iya merasa bersalah. Ujung-ujungnya juga para lelaki yang minta maaf.

            Kembali pandangan Bejo mengarah kepada para mahasiswi di depannya, kali ini ia seolah tak membuka telinganya. Cukup matanya saja yang terbuka lebar tanpa menyertakan pendengaran, ia alihkan focus pendengarannya pada suara motor dan mobil yang entah tak ia lihat. Bejo tidak mau paginya dipenuhi dengan kesal cuma karena mendengarkan cerita cewek-cewek yang berjalan geal-geol di hadapannya, dan ia pun memutuskan untuk mendahului gerombolan mahasiswi.

Lega lah sudah Bejo saat melihat ke depan, gang yang sedari tadi ia nikmati beserta isinya, sudah terlihat ujungnya dan terhampar luas jalan batako kampus, itu artinya Bejo akan segera melesat, ia pun permisi kepada cewek-cewek di depannya dan sekilas Bejo mencuri pandangan melihat wajah mereka, setidaknya Bejo akan merekam wajah-wajah mereka yang tidak ingin dipacarinya kelak, meskipun Bejo masih teguh dengan kejombloannya, namun Bejo berprinsip ingin menemukan cewek yang menghargai perjuangan cowoknya yang kebanyakan dari cewek tak pernah melihat dari sisi usahanya.

 

 

Bandung, 2017

Bagaimana Caramu Menghormati Kepergian Senja 

21751831_1961454577472598_306809061936336779_n

Bagaimana Caramu Menghormati Kepergian Senja

Aku tanya;
Bagaimana caramu menghormati perginya senja
Masihkah kau bermuram-duja?
Sedang senja hendak meninggalkanmu dengan sengaja
Seyakin itu kah dirimu menyambut malam tanpa sepatah kata?
Kepergiannya memang pantas membuatmu gila 

Ketauhilah senja tak punya banyak waktu
Apalagi jika terus kau tutup dirimu dengan kelabu

Kuperingatkan sekali lagi
Senja tak pernah berjanji kembali
Segala kenangan bersamanya berhamburan dan kau tak akan peduli
Bahkan di saat sendiri
Sepi tak sudi menghampiri
Jelas saja kamu akan menyesal jika melewatkan senja terlebih tanpa segelas kopi

 

#KAMUPHRASE #senjayangberkemaspergi

Pertiwi Menyanyi

Di negeri agrari kita dilarang bertani

Di negeri bernenek moyang seorang peluat kita tak bisa melaut

Di negeri yang terhampar sawah kita memanen gedung yang mewah

Di negeri yang mengedepankan demokrasi kita tidak bebas berorasi

Mengumpat di balik safari sembari onani

Transaksi yang menjadi saksi kami bersuara

Sandiwara massal di panggung terbesar

Yang berjabat tangan saling menyalahkan

Yang berjanji saling mengingkari

Mengubur milyaran ikan untuk kami makan

Memendam padi yang harusnya menjadi nasi

Di keterbukaan kami mencari yang disimpan

Di keberagaman kami masih tak bisa nyaman

Di negeri pertiwi hanya yang merdu yang bisa menyanyi

Di negeri pertiwi yang bersuara sumbang dipaksanya bungkam

Semakin kau pendam

Semakin nyala dendam

Semakin kau bungkam

Semakin kami enggan diam

Biarkan kami selalu menjadi benalu bagimu

Jika kebenaran tak bisa menyadarkan kami bergerak melawan

 

Bandung, 2017

 

 

 

Gugu – Hanyalah Kau

Puisi Hanyalah Kau sekarang sudah merdu dan layak menjadi teman galau setelah bangun dan menjelang tidur.

klik kalimat berwarna dan hanyutlah.

Hanyalah Kau

Pernah ku menunggu

Di waktu malam bisu

Mengingat kembali awal kita bertemu

Semoga kau tak bosan hadir di mimpiku

 

Di pagiku

Menyambut sang mentari

Harapanku kau ucapkan “selamat pagi” untukku

Namun kau masih diam entah dimana

 

Banyak senyum menyapaku

Namun tak satu pun itu kamu

Hanyalah kau pintaku

Seraya ku berdoa

Kau diciptakan untukku.